IsDB Monitoring Pelaksanaan Proyek 4in1 di Unmul



Dua Gedung akan Masuk Tahap Topping Off Stucture

Pelaksanaan proyek 4in1 di Unversitas Mulawarman (Unmul) mulai menampakkan beberapa kemajuan. Terbukti dengan semakin cepatnya progres pada dua gedung yang diharapkan siap untuk soft opening pada Agustus 2019, yaitu Science Learning Center (SLC) dan ICT Centre. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Rektor IV bidang Perencanaan dan Kerjasama Universitas Mulawarman, Dr. Bohari, M.Si dalam sambutannya pada acara IsDB Mission: Monitoring 4in1 Project PIU Unmul, 11 Maret 2019 lalu. “Maret ini dilaporkan bahwa dua bangunan yang akan berada dalam tahap topping off,” ungkap Bohari.

Meskipun terdapat dua pembangunan gedung yang dikebut progresnya, pelaksanaan secara menyeluruh pada proyek ini masih dinilai lebih lambat dibanding tiga universitas lainya, yakni di Universitas Jember, Universitas Negeri Malang, dan Untirta Banten. Hal ini diungkapkan Deni Ahmad Fauzi, dari IsDB bahwa proyek yang dibangun di Unmul lebih lambat dbanding 3 universitas lainnya. Ia menambahkan, proyek 4in1 di Unmul memiliki tantangan yang spesifik. Seperti masalah pengiriman bahan, pengadaan bahan, dan tenaga kerja.

“Diharapkan kontraktor dapat menyelesaikan masalah ini, sehingga antisipasi yang baik untuk mengurangi keterlambatan dapat diimplementasikan. Kemajuan civil works di universitas lain lebih tinggi daripada di Unmul.” kata Deni di ruang Rapat 1 Gedung Rektorat Unmul. Dari data PT NUsa Konstruksi Enjiniring/NKE (kontraktor proyek ini), progresnya baru mencapai angka 8,36% hingga 10 Maret lalu. Deviasi proyek pada 3 Maret 2019 adalah 1.292% dari yang direncanakan 7.076%. Ada kegiatan yang tidak dapat dimasukkan dalam kemajuan, karena di luar ruang lingkup: 1,244%. Menurut Amirul, dari PT NKE, ada beberapa kendala seperti masih ada kekurangan baja dan tiang pancang karena pengiriman dipengaruhi oleh kondisi cuaca, namun masalah bore pile di gedung Integrated Laboratory (IL) telah terpecahkan. Dalam pertemuan dengan IsDB ini, juga membicarakan masalah additional work. Menurut Deni, jika progres proyek tidak diverifikasi, penundaan dapat memengaruhi pekerjaan tambahan. Solusi penundaan dapat diusulkan oleh PSC dan kontraktor, di sana untuk IsDB dapat diyakinkan bahwa setiap pekerjaan tambahan akan diberikan. IsDB memiliki catatan tentang kinerja dalam proyek saat ini di Unmul, sehingga kinerja kemajuan kontraktor di proyek masa depan dapat dihitung. Selain itu, WR IV juga mengemukakan beberapa hal dalam proses pembangunan proyek ini. Ia menyoroti rencana pembangunan pengolahan air bersih, yang bermaksud untuk memasok kebutuhan air bersih di Unmul, khususnya pada gedung-gedung laboratorium yang dibangun dalam proyek tersebut. Desain teknik terperinci dari pemrosesan air bersih akan disiapkan oleh universitas.

Bohari juga meminta peralatan IT tambahan untuk memungkinkan smart building seperti yang direncanakan. “Persetujuan material saat ini sedang berlangsung, termasuk lift, generator, dan material listrik mekanis lainnya. Soal keselamatan dalam proyek harus dipraktikkan dengan lebih baik. Selain itu, magang untuk mahasiswa sarjana sipil telah dilakukan, diharapkan tesisnya diangkat dari proyek ini.” Ungkap Bohari. Sementara itu, Direktur Eksekutif PMU, Suseno, menambahkan pentingnya komunikasi yang baik antara berbagai pihak dalam pelaksanaan proyek ini. “kontraktor CW, PSC, PMU dan PIU harus memiliki komunikasi yang baik untuk mendorong kemajuan proyek,” ujar Suseno. PMU juga mengingatkan kinerja dan kualitas kontraktor lebih ditingkatkan lagi seperti yang pernah disepakati PT. NKE, bahwa NKE menjanjikan kinerja dan kualitas civil works yang lebih bagus dari perusahaan BUMN. (lap: admin PIU Unmul)